lupa judul… sangat menginspirasi

Hmmm, lg rapi2in file tiba2 ada file berisi cerpen ini, biasa lah…saya baca , suka -trus CoPas d… tp yang ini kenapa saya lupa CoPas URL-nya ya….sampai judulnya pun lupa… mungkin Cinta desa atau cinta gadis desa, duh…! Bener2 lupa. Alhamdulillah nama si Penulisnya sempet ter copy “Azti Arlina” semoga aja yg punya ini cerita nemu blog ini… langsung comment d disini *_^.

Sangat menginspirasi…

Yuk simak…..

……

Oleh : Azti Arlina

Siapa yang tak sakit ditolak cintanya? Apa lagi untuk Gadis, yang tak pernah sembarang membuka hatinya kepada setiap pria. Dia selalu menyimpan rapi cintanya, disiapkan untuk seorang pangeran, yang belum pernah dia temukan sam sekali dalam hidupnya. Bukanya sang Gadis sulit mencintai seseorang. Namun, sang Gadis sangat berhati-hati. Dia khawatir jika dia mengira merasakan cinta, tapi ternyata hatinya mengingkari.
Sang Gadis pun lebih memilih ‘waktu’, terlebih ketika beberapa kumbang dating kepadanya menawarkan madu. “Aku butuh waktu,” begitu katanya. Padahal, kumbang itu seorang model, seorang idola sekolah, bahkan seorang dokter muda di daerahnya. Ya, dia butuh waktu. Karena dia ingin memberikan cintanya yang utuh dan murni.
Siapa tak sakit cintanya ditolak? Terlebih untuk sang Gadis. Yang sudah mulai gerah oleh gossip bahwa dia mengalami gangguan jiwa karena tak pernah jatuh cinta. Sampai ketika seragam abu-abunya memasuki tahun ketiga, sang Gadis pun masaih sendiri. Menikmati kesendirian tanpa menyadari , sesungguhnya dia mulai jatuh hati kepada seseorang

Berawal dari ketidak sengajaan mendengarkan percakapan diruang kepala sekolah, Gadis melihat Dhani, peraih juara dikelasnya, sedang bernegosiasi meminta keringanan anggaran untuk ujian akhir. Saiapa sangka Dhani sipenerima beasiswa itu anak seorang petani. Sang Gadis pun tersentuh.
Setiap ada waktu, di kelas atau di manapun ada kesempatan, dia mengajak bicara sang bintang kelas itu. Namun sejauh itu, tak ada respon sedikit pun darinya. Sang Gadis paham, untuk seorang Dhani, perhatian seorang wanita tak begitu penting baginya. Karena begitu banyak beban keluarga yang ada dipundaknya.
Setiap hari berganti, setiap itu pula rasa simpati sang Gadis bertambah. Karena Dhani tetaplah Dhani yang dia kenal sebelumnya. Tidak ada kegundahan sedikit pun yang terlihat diraut wajahnya. Padahal, sang Gadis mengetahui, batas akhir pembayaran ujian tinggal dua minggu lagi.
Dheni tetap lah dhani yang dia kenal sebelumnya. Dia tetap bias belajar dengan tenang, menjawab pertanyaan dengan tepat, bertanya dengan kritis, dan berdiskusi dengan bijak sana. Dhani tetap bias menjadi bintang. Bahkan, bukan hanya bintang dikelas, namun juga dihati sang Gadis.
Akhirnya, sang Gadis pun memutuskan mengorbankan sebagian uang tabunganya.
Saat itu jam istirahat, nama Dhani dipanggil dispeaker sekolah untuk segera keruang tata usaha. Disana Dhani terkejut, menerima kuitansi pelunasan uang ujian akhir atas namanya. Siapa yang berbaik hati membeyarkanya? Dhani pun bertanya-tanya akan hal itu. Tidak ada pesan di kuitansi itu, kecuali sebuah tanda tangan yang dibubuhi tulisan : “Sahabat yang mengagumi mu”.
Tak ada yang ingin ditolak cintanya. Begitu pun Gadis, yang kini mulai menyadari, hatinya telah dicuri oleh Dhani. Dengan perasaanya ini, sang Gadis yakin, dia tidak mencintai oarng yang salah. Namun Gadis bingung bagaimana harus mengekspresikan perasaanya. Dia hanya bias mencuri kesempatan interaksi ketika jam diskusi, atau sesekali keperpustakaan.
Siang itu diperpustakaan, Gadis mengembalikan buku yang sengaja dipinjam kemarin kepada Dhani. Tanpa perasaan apa-apa, Dhani pun menerima buku itu. Namun dia terkejut mendapati kartu terselip didalamnya. Kartu itu berwarna merah jambu, menyebarkan wangi semerbak aroma bunga, senada dengan puisi yang tertulis didalamnya :
Kenapa tidak kau letakan tangan itu
Ketika penat mengelabui mu
Padahal selalu ada bahu yang menunggu
Letakanlah…
Tangan itu dibahunya
Bukan hanya untuk berbagi
Tapi karena ingin mencintai
Sahabat yang mengagumi mu

Cukup lama Dhani memahami isi puisi itu. Dibacanya diulangnya berkali-kali. Sampai akhirnya, dia terfokus pada suatu ungkapan. Dahani pun tersentak kaget “Sahabat Yang mengagumi Mu”?
Dia mengingat-ingat dimana dia pernah menemukan kalimat itu. Diacari dan dicari…ya, diamenemukan kuitansi itu. Persis dengan tulisan di kartu itu, “sahabat yang Mengagumi Mu”.
Dhani langsung memutar otaknya : Diakah…? Diakah yang membayarkan uang ujian untuk nya…? Untuk apa…?? Untuk apa dia lakukan itu…?
Sepulang sekolah, Dhani meminta Gadis untuk tidak beranjak pulang. Di kantin itu, hanya tinggal mereka berdua, Dhani menjelaskan semuanya.
“karena aku menyayangimu, Dhani.” Kalimat itu lemah keluar dari bibir Gadis.
“Apa…?”Dhani tersentak kaget. “tidak, tidak bisa!” Dhani mengembalikan kartu merah jambu tersebut. “Ambil ini! Dan aku akan lunasi uang ujian itu secepatnya!”
“Apa maksudmu, Dhani? Aku tidak bisa meminjamimu…Aku tulus ingin membantu…” Air mata membasahi pipi Gadis.
“Tidak perlu! Aku bisa sendiri. Aku biasa hidup seperti ini…dan…jangan pernah menyayangiku!” Dhani pun beranjak pergi.
“Tunggu, Dhani…!” sambil menghapus air matanya, sang Gadis menahan Dhani untuk pergi.
“Kenapa?… Kenapa aku tak boleh menyayangimu? Aku tulus menyayangimu.” Sang Gadis menghapus lagi air matanya “ Aku hanya menyayangimu, Dhani, dan tidak memintamu untuk menjadikan ku pacar.”
“Tidak bisa!” angkuh Dhani.
“Kenapa…?” sang Gadis semakin memaksa…
Namun tanpa jawaban, Dhani pergi meninggalkanya.
Siapa tak sakit ditolak cintanya? Terutama untuk wanita selemah sang Gadis, yang saat itu hanya bisa menagis, mengurai pilu. Dengan air mata, yang hanya melampiaskan kemarahanya dengan rengekan.

Sepuluh tahun berlalu. Sang Gadis kini bukan lah Gadis yang lemah seperti dulu. Dia telah menikah dan menjadi wanita pengusahaa.
Pagi itu, seoarang salesman ada diruang tunggunya. Dia meminta sekertarisnya untuk langsung menangani salesman tersebut. Namun salesman tersebut tetap membangkang untuk bertemu denganya. Karena lama menunggu akhirnya ia meninggalkan pesan.
Alangkah terkejutnya wanita pengusaha mengetahui isi pesan salesman tersebut. Sebuah pesan yang membuka luka nya sepuluh tahun silam.
Untuk seorang yang pernah menorehkan puisi untukku atas nama “sahabat yang mengagumimu”, AKU MOHON MAAF.
Kini dia sudah berbenah, bahkan melebihi kesempurnaanku dulu.
Setidaknya, aku berharap dia sudi memaafkanku, meskipun tanpa berharap merebut kembali hatinya…
DHANI

Si wanita menghela nafas panjang. Siapa tak sakit ditolak cintanya?
Kemudian tanpa sadar, pena ditanganya menuntun dia menjawab pesan itu:
Terima kasih, karena dulu telah menolak cintaku.

Thanks for my inspiration : “Cinta Desa”contrat.

Iklan

2 Tanggapan to “lupa judul… sangat menginspirasi”

  1. SALAM KENAL, SALING MENGUNJUNGI serta SALING BERBAGI…. WAH, WEBNYA BAGUS. BISA TUKER LINK GA YAH…

    DENINDODUTACIPTA (*Arsitekture *Interior *Pertamanan) 😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: