Arsip untuk Februari, 2010

Hadits

Posted in penghambaan diri on Februari 26, 2010 by yettiasnita

“Tidak ada cara ber-taqarrub (mendekatkan diri) seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku sukai selain melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Aku fardhu-kan kepadanya. Namun hamba-Ku itu terus berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan (sunnah) nawafil, sehingga Aku pun mencintainya. Apabila ia telah Aku cintai, Aku menjadi pendengarannya yang dengan Aku ia mendengar, (Aku menjadi) pengelihatannya yang dengan Aku ia melihat, (Aku menjadi) tangannya yang dengan Aku ia keras memukul, dan (Aku menjadi) kakinya yang dengan Aku ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, sungguh, akan Aku beri dia, dan jika ia memohon perlindungan-Ku, Aku benar-benar akan melindunginya.”

(Hadits Qudsi riwayat Bukhari).

Tuhanku

Posted in penghambaan diri on Februari 25, 2010 by yettiasnita

Tuhanku, aku butuh dalam ketidak butuhanku, bagai mana mungkin tidak fakir dalam kefakiranku. Tuhanku, aku bodoh dalam kepintaranku, bagai mana mungkin tidak bebal dalam kedunguanku. Tuhanku,begitu besar toleransi-Mu padaku atas besarnya kebodohan yang kulakukan, dan begitu teramat kasih Engkau padaku meski teramat buruk perbuatanku. Tuhanku,alangkah dekatnya Engkau padaku,dan alangkah jauhnya diriku pada-Mu. Tuhanku, keluarkan aku dari kerendahan nafsuku, dan bersihkan aku dari keraguan dan syirikku sebelum memasuki liang lahatku….                                                               amin… ”

Lidah

Posted in CERPEN on Februari 25, 2010 by yettiasnita

Rena memang sudah tak kuat lagi menghadapi mertuanya yang cerewet. sepertinya ia akan resmi berpisah dengan suaminya, gara-gara perempuan tua itu. Berkat anjuran sejumlah temennya ia datang kepada orang pinter! Tewaskah mertuanya setelah diracun? siapa orang pinter itu sebenarnya?

…..Cerpen ini ditulis mas : Ahmad Rofiq, dimuat di Kompas Minggu 24 Januari 2010

Matahari telah muncul di timur. Cahaya kuning menyeruak dan menguasi permukaan langit. Bola api raksasa itu merangkak mendaki hingga sepenggalah ketinggiannya. Biasanya di waktu seperti itu Rena sudah berada di dapur. Memasak atau mencuci tumpukan piring kotor. Tapi tidak di pagi itu. Saat itu dia merasakan tubuhnya capek dan kepala agak pening. Maka dia masih tiduran di dalam kamar.
Di luar kamar, terdengar ibu mertuanya sibuk mengomel. Sesekali juga terdengar perempuan tua itu membentak-bentak.
”Dasar ayam pemalas. Sepagi ini masih nyekukruk, seperti ayam gering (sakit). Sana keluar cari makan!”
”Wuttt, glontang, klotakkk, brukk!” bunyi sepotong kayu dilempar.
”Sial, dia lagi-lagi menyindirku,” umpat Rena dalam hati.

Baca lebih lanjut